Selasa, 20 Juni 2017

Esai Cerpen Sisik Naga Di Jari Manis Gus Usup Karya M. Shoim Anwar


Karya sastra adalah sebuah produk masyarakat karena pengarang berada dan hidup di tengah masyarakat serta dibentuk oleh anggota masyarakat berdasarkan desakan emosional serta mempertimbangkan rasional tertentu.Dalam kehidupan bermasyarakat, manusia sering disuguhkan dengan berbagai masalah yang menyangkut jiwanya. Namun, tidaklah mudah untuk mengetahui proses kejiwaan tersebut. Oleh karena itu, diperlukan penelitian terhadap gejala kejiwaan karena gejala tersebut merupakan perwujudan atau penjelmaan dari kehidupan jiwa.
Pengalaman dan tingkahlaku manusia dapat digambarkan lewat tokoh rekaan dalam karya sastra. Minderop (2011:1) mengatakan bahwa tokoh rekaan ini menampilkan berbagai watak dan perilaku yang terkait dengan kejiwaan dan pengalaman psikologis atau konflik-konflik sebagaimana dialami oleh manusia di dalam kehidupan nyata. Teori psikologi kepribadian melahirkan konsep-konsep seperti dinamika pengaturan tingkahlaku, pola tingkahlaku, model tingkahlaku dan perkembangan tingkahlaku. Sasaran utama psikologi kepribadian adalah memperoleh informasi mengenai tingkah laku manusia. Karya sastra, sejarah dan agama bisa memberikan informasi berharga mengenai tingkahlaku manusia.
Dalam cerpen ini tergambar dengan jelas bagaimana masyarakat menghormati Gus Usup. Cerpen ini tergolong kepribadian “bijaksana” masuk kedalam golongan yang proses pengiringnya kuat dan diberi tanda (+). Proses pengiring merupakan sedikit atau banyaknya pengaruh dari kesan tersebut tidak lagi dalam alam kesadaran manusia. Berikut ini kutipannya.
Ketika dia melintas di jalan, orang-orang menyapanya dengan penuh rasa hormat, sedikit membungkukkan badan, menanyakan mau ke mana, hingga mempersilakan mampir ke rumah. Sebuah kehormatan luar biasa bila Gus Usup berkenan singgah dan menyeruput kopi yang kami suguhkan. Tentu saja ini jarang terjadi. Gus Usup menjawab sapaan kami dengan tersenyum sambil terus mengayuh sepedanya.
Dari pengambaran secara tidak langsung pengarang atau indirekte charakterisierung yaitu melalui tingkah laku dari tokoh utama ini menunjukkan kebijaksanaannya ketika berhadapan dengan orang lain  sehingga tidak merugikan orang lain yang ada disekitarnya. Dan menggambarkan bahwa Gus Usup memang sosok yang dihormati. Gus Usup sosok yang ramah dan mudah akrab terhadap warga. Dilihat dari jawaban Gus Usup yang tidak sombong terhadap sesame, Gus Usup seorang yang bijaksana  dan bisa dijadikan panutan oleh warga disesanya.
Dari kondisi fisik Gus Usup adalah seorang lelaki yang tampan, serta memiliki wajah dan kulit yang kuning bersih. Dan cara berpakaiannya Gus Usup itu ia menggenakan pakaian sangat sopan. Karena Gus Usup sangat memperhatikan kebersihan dan juga kerapian sehingga Gus Usup terlihat sosok lelaki yang tampan. Dari cara berpakaiannya itu dapat di lihat ia seorang yang praktis karena ia menggenakan sarung sebatas dengkul sehingga Bulu-bulu keriting kelihatan tumbuh lebat di kakinya yang kuning. Dari tingkah laku Gus Usup tersebut di gambarkan bahwa enggan tidak mau memanjangkan sarungnya karena agar terlihat sosok lelaki yang gagah.
Kepribadian Gus Usup tidak hanya memiliki wajah yang tampan memlainkan Gus Usup juga pernah menjadi anak nakal ketika usianya masih kecil. Oleh karena itu, ia di marahi. kepribadian kesadaran perasaan. Dikatakan  demikian karena apabila dicermati tuturan tersebut menggambarkan seorang Gus Usup tidak suka bergaul dengan anak kampung. Gus Usup sering menyindiri dan bermain di  sungai untuk mencari batu yang mirip seperti  batu akik. Dengan kebiasaan Gus Usup tersebut Gus Usup tidak berani pulang ketika di ketahuan mandi di sungai pasti akan di marahi. Oleh karena itu, ketika Gus Usup mandi di sungai menunggu mata Gus Usup tidak merah agar tidak ketahuan. Dalam cerpen ini juga menceritakan tentang Gus Usup yang tidak pernah kalah dalam permainan kartu. Warga masyarakat percaya bahwa cincin akik yang bergambar sisik naga di jari Gus Usup itulah yang membuat dia tidak terkalahkan. Cerpen ini menggambarkan kepribadian “tidak pantang menyerah” masuk kedalam kualitas kejiwaan aktivitas. Aktivitas merupakan cara menyatakan diri dengan perasaan dan pemikiran yang spontan dan kepribadian ini masuk kedalam golongan yang aktif dan di beritanda (+). Dari penggambaran secara tidak langsung dapat dilihat dari tidak pantang menyerah tokoh utama dengan keberaniannya menantang teman-temannya. Dalam cerpen ini teman-teman Gus Usup sangat heran melihat Gus Usup terutama guk mat. Guk mat disini memiliki kepribadian kesadaran perasaan. Guk Mat tampak kesal karena tidak pernah memenangkan permainan kartu, selalu saja yang memenangkannya Gus Usup. Tiba-tiba di tengah-tengah permainan yang sedang berlangsung, Gus Usup berhenti bermain karena ingin ke toilet. Gus Usup tiba-tiba melemparkan jaket ke arah Guk Mat dan masuk ke toilet kembali, sehingga tidak dapat berkonsentrasi dengan permainan kartu diakibatkan perutnya yang sakit.
            Dari sisi lain Gus Usup juga memiliki kepribadian ”suka menolong” masuk kedalam golongan yang proses pengiringnya dan diberi tanda (+). Proses pengiring merupakan sedikit atau banyaknya pengaruh dari kesan tersebut tidak lagi dalam alam kesadaran manusia.
Dari beberapa kutipan yang telah dipaparkan, cerpen Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dalam cerpen ini adalah M. Shoim Anwar mengangkat cerita ini berdasarkan peristiwa atau fenomena sosial yang sering terjadi antara kehidupan keluarga pondokan dengan warga masyarakat yang terjalin begitu harmonis dan begitu menghormati satu sama lain.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ESAI CERPEN YANG BERJUDUL “ RENDEMEN” Karya Shoim Anwar Cerpen yang berjudul “Rendemen” menceritakan bagaimana suasana kehidupan di masya...